Maluku: Asal Cengkeh dan The Island of Spice

By Celebica - Januari 03, 2020

Cengkeh Raja yang endemik pulau Ambon

The island of spice” atau pulau rempah-rempah merupakan julukan Kepulauan Maluku dikalangan masyarakat internasional. Beberapa abad yang lalu Kepulauan Maluku telah dikenal sebagai penghasil cengkeh dan pala berkualitas tinggi. Cengkeh menjadi saksi sejarah masa kolonialisme di Indonesia. Pada abad ke delapan cengkeh merupakan komoditas yang memiliki nilai yang tinggi di daratan Eropa. Cengkeh telah digunakan sebagai bahan rempah-rempah, obat-obatan, campuran kue dan makanan, pengawet daging dan sebagai pengharum. Peningkatan permintaan cengkeh semakin tinggi saat industri rokok kretek semakin banyak.
Mahalnya harga cengkeh ini membuat bangsa Eropa mencari daerah asal penghasilnya. Harga 1 Kg cengkeh setara dengan 7 gram emas pada waktu itu. Apalagi pada saat itu belum ditemukan kulkas dan freezer, maka cengkehlah yang digunakan sebagai bahan pengawet daging dan ikan. Bangsa Portugis pertama kali sampai ke Maluku pada abad ke 16 dan mengetahui bahwa Maluku merupakan daerah penghasil cengkeh. Kedatangan bangsa Portugis ini sebagai awal pengiriman cengkeh langsung ke Eropa.
Para ahli botani sepakat bahwa cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Maluku. Cengkeh ini banyak tersebar di beberapa pulau di Maluku seperti Ternate, Tidore, Roti, Bacan, Ambon, Seram, Banda dan pulau-pulau lainnya. Nicolo conti, seorang saudagar dari Venesia merupakan orang yang pertama kali mengungkapkan bahwa cengkeh berasal dari pulau Banda di Kepulauan Maluku, Indonesia (Ridley 1912).
Sama seperti penyebaran komoditas lain seperti kakao, cengkeh dapat menyebar dan ditanam di berbagai penjuru dunia tidak lepas karena adanya kolonialisme. Penyebaran cengkeh ke wilayah Indonesia yang lain juga tidak lepas karena peristiwa kolonialisme. Belanda dan Inggris memasukkan bibit jenis Zanzibar dan ditanam di Bogor, Bengkulu dan Bukittinggi. Dari Bogor kemudian menyebar ke wilayah-wilayah lain di pulau Jawa dan dari Bengkulu kemudian menyebar sampai ke Lampung, Tapanuli dan Aceh. Sedangkan di Sulawesi, pertama kali ditanam di Sulawesi Utara pada tahun 1870 kemudian menyebar ke wilayah Sulawesi lainnya. Saat ini, bukan hanya Maluku sebagai penghasil cengkeh di Indonesia tetapi beberapa provinsi juga menjadikan cengkeh sebagai salah komoditas unggulannya.
Sebenarnya, sebelum bangsa Eropa datang ke Maluku dan menguasai perdagangan rempah-rempah, pedagang muslim telah melakukan perdagangan cengkeh. Pedagang melayu membawa rempah-rempah dari Maluku ke selat Malaka kemudian dikirim ke Gujjarat, Ormus dan istambul melalui laut merah. Dari sinilah kemudian cengkeh dibawa pedagang Vanesia ke Eropa.
 Jejak tata niaga cengkeh dan rempah lainnya pada masa kolonial di Maluku dibuktikan dengan beberapa data arkeologi. Data arkeologi tersebut seperti perk (gambar 1a), loji dan surat penghargaan. Perk merupakan area perkebunan pala yang telah dilengkapi dengan kompleks pengolahan pala. Kompleks ini terdiri atas beberapa bangunan seperti rumah pengasapan pala, rumah pengawas dan rumah pekerja. Loji merupakan kantor dagang VOC yang di dalamnya terdapat gudang komoditi, gudang amunisi dan hunian. Loji berfungsi untuk mengumpulkan hasil rempah-rempah sebelum dikirim ke Eropa. Surat penghargaan meupakan surat yang diberikan oleh pemerintah Belanda kepada raja-raja yang memiliki produksi cengkeh yang baik. Selain itu, bentuk penghargaan lain berupa tongkat emas juga sebagai bentuk apresiasi kepada raja (Mansyur 2011).

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar