Eksotisme Cengkeh Hutan di Maluku

By Celebica - Mei 23, 2020

Karakter Morfologi Cengkeh Hutan. Foto: Asri Subkhan Mahulette
    Indonesia memiliki sumber daya genetik cengkih yang cukup tinggi dengan pusat keragaman berada di Kepulauan Maluku. Keanekaragaman plasma nutfah cengkih Indonesia yang telah diinventarisasi terdiri atas cengkih tipe liar, primitif, landrace dan komersial. Maluku sebagai bagian dari wilayah asli sebaran cengkih (the center of origin) di dunia, menyimpan keragaman genetik cengkih yang cukup tinggi (Alfian et al. 2019). Di Maluku terdapat salah satu cengkih tipe liar yang oleh masyarakat lokal setempat disebut sebagai cengkih hutan. Cengkih tipe liar ini memiliki bentuk agro-morfologi maupun komponen atsiri yang berbeda dengan cengkih budidaya dari golongan aromatik pada umumnya. Cengkih hutan di wilayah sebarannya di Maluku banyak dijumpai di wilayah Pulau Ambon (Desa Hitulama dan Hitumesing) dan Pulau Seram (Desa Latu dan Hualoi) karena telah banyak dibudidayakan.

    Cengkih hutan memiliki karakter pohon yang kekar, kanopi membulat, daun lebih besar dan tebal, ujung daun kurang lancip, percabangan rendah pada batang utama, serta kurang beraroma pedas karena memiliki kandungan eugenol yang rendah (Koerniati 1997). Selain itu cengkih tipe liar ini lebih tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), berproduksi setiap tahun dan kurang berfluktuasi, memiliki pertumbuhan yang cepat, serta tahan terhadap tindakan pemangkasan.

    Hasil penelitian Mahulette et al. (2019a) memberi informasi bahwa cengkih hutan di Maluku memiliki kemiripan sebesar 78% di antara populasinya dan memiliki 3 kelompok varian dengan variasi agro-morfologi sebesar 22%. Karakter penciri utama cengkih tipe liar ini terletak pada panjang daun, lebar daun, luas daun, panjang buah, diameter buah, bobot buah, diameter biji, dan bobot biji, dimana memiliki ukuran yang lebih besar dibanding dengan cengkih aromatik. Secara agronomi, cengkih hutan umur 15 tahun dapat menghasilkan produksi bunga cengkih kering (dry flower bud) yang cukup tinggi yaitu sebesar ±32 kg per pohon, akan tetapi memiliki kadar minyak yang rendah (1-3%) dan kadar air bunga yang tinggi yaitu sekitar ±64%. Waktu panen bunga masak petik (flower bud) cengkih hutan di wilayah sebarannya di Maluku berlangsung pada bulan Maret. Fase inisiasi pembungaan hingga dihasilkan buah memiliki durasi waktu 6 bulan (Mahulette et al. 2019b)

    Sejauh ini pemanfaatan cengkih hutan di Maluku hanya terbatas dalam bentuk bunga cengkih kering (dry flower bud) karena lebih menguntungkan dibandingkan dengan penjualan dalam bentuk minyak atsiri (essential oil). Pemanfaatan cengkih hutan dalam bentuk esssetial oil sejauh ini masih belum dilakukan karena cengkih tipe liar ini memiliki kandungan eugenol yang rendah (<20%). Rendahnya kandungan eugenol menyebabkan nilai jual cengkih hutan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan cengkih budidaya dari golongan aromatik. Adanya perbedaan genotype dengan cengkih budidaya dari golongan aromatik mengindikasikan adanya perbedaan komponen atsiri yang dikandung.
Cengkih hutan memiliki komponen atsiri mencapai 14 komponen, dimana sekitar 80% terdiri atas fraksi sesquiterpenoid, 15% fraksi phenilpropanoid, dan 5% fraksi alifatik. Komponen utama yang dikandung rata-rata terdiri atas germacrene-D, α-cubebene, eugenol, δ-cadinene, α-copaene, methyleugenol (Mahulette et al. 2020; Mahulette et al. 2019c). Eugenol termasuk komponen utama dari cengkih hutan, akan tetapi kandungannya berada pada konsentrasi yang rendah (<20%). Rendahnya kandungan eugenol menyebabkan cengkih tipe liar ini kurang memiliki aroma yang pedas dibandingkan dengan cengkih budidaya dari golingan aromatik. Meskipun memiliki kandungan eugenol yang rendah, akan tetapi volume produksi bunga kering per tanaman cukup tinggi sehingga lebih komersil. Pemanfaatan dalam bentuk  minyak atsiri (essential oil) sejauh ini belum dilakukan sehingga perlu dikaji lebih lanjut terutama mengenai potensi kandungan komponen atsirinya.


Pustaka:

Alfian A, A.S Mahulette, M. Zainal, Hardin, A. Bahrun. (2019). Morphological character of raja clove ( Syzygium aromaticum L . Merr & Perry .) native from Ambon Island. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 343(012150):1–4. doi:10.1088/1755-1315/343/1/012150
Koerniati S. 1997. Keanekaragaman plasma nutfah cengkih dan pelestariannya. In: Kemala S, Hasanah M, Djisbar A, Asman A, Nurjaannah N (Eds.). Monograf Tanaman Cengkih No. 2. Bogor: Balittro. pp. 25-32.
Mahulette, A.S., Hariyadi, S. Yahya, A. Wachjar (2020). Physico-chemical properties of clove oil from three forest clove accession groups in Maluku. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 418 (2020) 012028: 1-8. doi: 10.1088/1755-1315/418/1/012028
Mahulette, A.S, Hariyadi, S. Yahya, A. Wachjar, I. Marzuki (2019a). Morpho-agronomical diversity of forest clove in Moluccas, Indonesia. Hayati J. Biosci., 26(4):156–162.doi:10.4308/hjb.26.4.156.
Mahulette, A.S., Hariyadi, S. Yahya, A. Wachjar, A. Alfian (2019b). Morphological traits of Maluku native forest clove (Syzygium aromaticum L. Merr & Perry.). J. Trop. Crop Sci.

Penulis:
Dr. Asri Subkhan Mahulette, SP., MP
Peneliti Cengkih
Dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Pattimura
Dewan Penasehat Celebica

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar