Menjelajah Danau Lindu, Sulawesi Tengah

By Celebica - Agustus 06, 2020

Danau Lindu dihidupi biota air laut endemik Sulawesi. Danau ini juga menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar danau. Tampak landskap Danau Lindu. (Foto: M. Fajri Ramadhan, 2020)

Pernahkah anda berfikir untuk mengunjungi danau hanya untuk menikmati suasana tenang, melihat burung pemakan ikan melancarkan aksinya, atau sebatas menguji kesabaran dengan memancing ikan ? jika iya, Danau Lindu menjadi pilihan tepat.

Danau Lindu merupakan salah satu danau tektonik yang terletak di Kabupaten Sigi, Sulawesi tengah. Danau ini memiliki panjang 10 km dan lebar 5-6 km, menjadikannya danau terbesar di kawasan Taman Nasional Lore Lindu dan terbesar ke-8  untuk pulau Sulawesi. Secara administratif, Danau Lindu dikelilingi oleh lima desa yaitu Puro’o, Langko, Tomado, Anca dan Olu.

Profil Danau Lindu (Sumber : Lukman dan Ridwansyah, 2003):

Luas permukaan (M2)

34,474.090

Keliling (m)

26.555,5

Panjang  (m)

9.632,0

Lebar maksimum (m)

4.824

Kedalaman maksimum (m)

72,6









Untuk mengunjungi Danau Lindu, dibutuhkan ± 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda 2 dari kota Palu menuju desa Tomado. Akses jalan tergolong sulit untuk ditempuh. Kondisi tanah jalan yang licin setelah hujan, ditambah lagi topografi yang curam.

Selama perjalanan dari Sadaunta menuju Danau Lindu, terlihat masyarakat menyediakan jasa transportasi, orang maupun barang.

Kondisi Jalanan Menuju Danau Lindu (Foto: Hilda Yanti, 2020)
Terlihat masyarakat sekitar sedang membawa hasil panen masyarakat Danau Lindu yang hendak dijual di pasar tradisional. (Foto : M. Fajri Ramadhan, 2013)

Sulawesi merupakan pulau terbesar di kawasan Bioregion Wallacea. Sejarah geologi yang terjadi zaman dahulu menjadi penyebab penyusun biodiversitas Sulawesi saat ini.


Namun, masih diperlukan kegiatan eksplorasi penelitian untuk menjelaskan kekhasan tumbuhan Sulawesi. Kerusakan hutan yang terus meningkat menjadi penyebab hilangnya individu yang kiranya endemik sebelum terlaporkan keberadaannya.


Eksplorasi tumbuhan di sekitar Danau Lindu pertama kali dilakukan oleh Kruty dan Adriani (1897),  selanjutnya Sarasin (1902), 30 tahun kemudian Posthumus 1930, dan BISH mnggunjungi pada tahun 1934. Selanjutnya Blombergen (1940) dalam laporan perjalanannya mulai dari Sadaunta hingga Tomado (Danau Lindu) mencatat tidak kurang dari 180 jenis tumbuhan  berdasarkan vegetasi dan habitat tumbuhan. Nasrun (2011) melaporkan 40 jenis anggrek yang tumbuh alami hutan sekitar Danau Lindu.  


Berdasarkan letak geografisnya, Danau Lindu berada di ketinggian ± 1000 m dpl dengan tipe vegetasi hutan hujan dataran rendah.  Komposisi pohon  di  hutan hujan dataran rendah di TNLL, diantaranya didominasi famili Fagaceae, Lauraceae,  Araceae, Rubiaceae.


“Hutan sekitar Danau Lindu masih berpotensi dilakukan penelitian taksonomi tumbuhan seperti floristik, maupun revisi tingkat takson tertentu. Kegiatan ini berguna untuk pendataan flora Sulawesi yang hingga kini masih dalam khayalan. Disamping itu, tumbuhan yang kiranya endemik dapat terlaporkan sebelum hilang tanpa identitas”


Pustaka.

Bloembergen S, 1940. Verslag van een exploratie Tocht Naar Midden-Celebes.

Lukman dan Ridwansyah I, 2003. Kondisi daerah tangkap dan ciri morfometri Danau Lindu Sulawesi tengah. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, No. 53:11-20.

Nasrun MS, Bratawinata AA, Matius P, 2011. Keanekaragaman jenis anggrek di hutan wisata lindung Danau Lindu. Jurnal kehutanan Tropika Humida, 4(2).



Penulis:

- Muhammad Fajri Ramadhan

- Adhy Widya S

(Divisi Flora Celebica)


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar